ALEXANDER VPS

Cari Blog Ini

Mengabaikan nilai RAPOR

Jumat, 18 Januari 2013


Pendidikan bangsa ini sudah lama mendewakan nilai yang diberikan oleh guru dalam bentuk rapor. Siswa menjadi terbelenggu dalam label kebodohan dan ada juga yang tidak mampu berbuat apa-apa meski rapornya bertuliskan rangking pertama. Kecerdasan anak bangsa Indonesia dibatasi tahun demi tahun. kapan majunya anak bangsa ini bila kecerdasannya dibatasi setiap tahun, jadi lambat kan perkembangannya. Hal ini sangatlah merugikan bangsa, apa tidak kasihan kepada pejuang-pejuang kita yang telah mengorbankan dirinya demi bangsa ini yang telah menjai tampat tinggal kita, dan “kalian” mengecewakan mereka. Rapor pun telah menjadi label seseorang selama berpuluh-puluh tahun, bahkan sampai ia meninggal.
Sebenarnya tidak ada yang salah dan pula tidak ada yang disalahkan, karena pada dasarnya hasil dari sebuah proses pembelajaran memang harus ada alat ukuran keberhasilan atau gagalnya. Semua dilakukan sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan proses pembelajaran untuk yang akan datang. Namun permasalahannya adalah alat ukur tersebut berlaku sepanjang hayat. Betapa tidak, coba fikirkan saja tanpa ijazah SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi menjadi ukuran diterimanya atau ditolaknya seseorang saat melamar pekerjaan. Hal ini tentu saja sangat bertentangan dengan sisi kemanusian yang secara akademis itu berkembang dan dinamis. Betul ga’..?? menurut saya bentuk pengabadian nilai rapor/ijazah telah melanggar HAM. Apakah saya berlebihan?? Menurut saya tidak berlebihan. Apa kalian tahu bahwa pendidikan modern telah menemukan apa yang namanya kecerdasan ganda (multiple intelligences), dimana manusia secara kodrati memang memiliki sisi-sisi kelebihan meski hanya satu diantara delapan atau sembilan kecerdasan yang dimiliki manusia. Dan nilai angka sebagai hasil yang sesungguhnya. Seharusnya, itu hanya berlaku saat itu saja, yaitu saat ia mengikuti proses pembelajaran, bukan sepanjang hayat seperti yang berlaku sekarang ini. Bukankah telah terjadi pelaggaran HAM jika seseorang dilabel secara “abadi” oleh nilai rapor atau ijazah.
Sekolah sebagai institusi pembudayaan, peradaban, dan pemuliaan manusia, tapi dalam prakteknya mematikan nilai-nilai luhur tersebut dengan label “abadi” nilai rapor. Beranikah kita meninggalkan jauh-jauh dan sangat jauh paradigma lama nilai rapor??? I want you word ‘YES, YES, and YES’.

Makasih udah buka n’ baca blog saya, semoga bermanfaat. Kalo ada salah kata atau kalimat mohon maaf.

0 komentar:

Posting Komentar